Tgk. Ismail Yacub

Teungku Ismail Yakub lahir di Lhoksukon pada tahun 1915. Pada tahun 1931, setelah belajar di berbagai dayah setempat, ia pergi ke Sumatera Barat melanjutkan pendidikan dan tinggal di sana hingga tahun 1936. Ketika kembali ke Aceh pada tahun itu, di memasuki organisasi Muhammadiyah dan menjadi ketua Perguisa.

Kedudukannya sebagai koordinator sekolah agama yang didirikan oleh Teuku Chik Muhammad Basyah, uleebalang Keureuto (suatu distrik di Lhoksukon), menyebabkan ia mempunyai hubungan yang dekat dengan uleebalang tersebut. Dia merupakan anggota penting kelompok pemikir PUSA. Pada masa Jepang ia diangkat sebagai inspektur sekolah agama di Aceh dan tetap dalam jabatan itu hingga bergabung dalam pemberontakan Darul Islam pada tahun 1953. Dia juga seorang penulis yang sangat produktif untuk beberapa majalah yang terbit di Sumatera. Pengalaman yang luas itu menyebabkan Ismail Yakub diangkat menjadi redaktur majalah PUSA, Penjoeloeh (1940-1942).

Salama masa revolusi dia aktif sebagai pemimpin PNI dan juga dalam Markas Umum. Ia memainkan peranan yang aktif sebagai “jaksa penuntut” terhadap para uleebalang dalam penyelesaian peristiwa Cumbok. Teungku Ismail Yakub pernah dipenjarakan di Sumatera Utara sehubungan dengan keterlibatannya dalam pemberontakan Darul Islam. Setelah menyelesaikan hukuman, ia berangkat ke Mesir untuk belajar dan memperoleh gelar MA dari Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.

Beliau sempat menjadi Rektor IAIN Sunan Ampel di Surabaya dan IAIN Walisongo Semarang. Di antara karyanya yang utama adalah Teungku Tjhik Di Tiro : Hidup dan Perjuangannya (terbit pertama kali pada tahun 1942).

Aktivis PUSA

Pada tanggal 12 Rabiul Awal 1358 bertepatan dengan tanggal 5 Mei 1939, bertempat di Madrasah Al-Muslim Peusangan, Bireun, berlangsung suatu musyawarah besar alim ulama dari seluruh Aceh, yang menghasilkan berdirinya suatu organisasi yang diberi nama Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Teungku Ismail Yakub menjabat sebagai Setia Usaha (sekretaris) II dalam pengurus besar PUSA yang dibentuk pada tahun 1939 tersebut.

Secara lengkap pengurus besar PUSA yang pertama adalah sebagai berikut :

Ketua I : Teungku Muhammad Daud Beureu-eh
Ketua II : Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap
Setia Usaha I : Teungku M. Nur el Ibrahimy
Setia Usaha II : Teungku Ismail Yakub
Bendahara : T.M. Amin
Komisaris : Teungku Abdul Wahab Keunalo Seulimuem, Teungku Abdul Hamid Samalanga, Teungku Usman Lampoh Awe, Teungku Yahya Baden Peudada, Teungku Mahmud Simpang Ulim, Teungku Ahmad Damanhuri Takengon, Teungku Muhammad Daud, Teungku Usman Aziz.

Pengurus besar itu terus-menerus mengadakan rapat untuk mengatur langkah selanjutnya untuk mencapai cita-cita PUSA dalam segala bidang.

Pada kongres PUSA yang pertama tanggal 20–24 April 1940 di Sigli, menghasilkan beberapa keputusan di antaranya membentuk Pemuda PUSA, Muslimat PUSA, bagiang penyiaran dan penerbitan majalah.

Secara aklamasi dipilih :

Ketua Hoofd Bestuur (pengurus besar) Muslimat PUSA : Nyak Asma, isteri Teungku Muhammad Daud Beureu-eh
Ketua bagian penerangan dan penyiaran PUSA : Teungku Ismail Yakub. Tidak lama setelah Teungku Ismail Yakub terpilih sebagai ketua penyiaran PUSA, terbit majalah bulanan di Bireuen yang diberi nama Penjoeloeh di bawah pimpinan Teungku Ismail Yakub.

Teungku Ismail Yakub sangat berperan dalam pembentukan PUSA, ia seorang ulama muda yang pada waktu itu baru saja menamatkan pendidikan di Sumatera Barat. Gagasan pembentukan PUSA lahir dalam suatu pertemuan yang berlangsung di rumah Teuku Chik Muhammad Basyah, uleebalang Keureuto, Blangjruen (Lhoksukon) pada tahun 1938. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Teungku Abdurrahman, Teungku Haji Trienggadeng, Hamka dan Teungku Ismail Yakub, melontarkan gagasan tentang perlu adanya sebuah organisasi yang mempersatukan ulama-ulama Aceh dan mempersamakan kurikulum madrasah yang telah dibentuk atau dibina oleh para ulama di Aceh.

Ketika pertemuan yang diadakan di Matang Glumpang Dua pada bulan Mei 1939, peranan Teungku Ismail Yakub terlihat dengan jelas. Pertemuan yang dihadiri oleh banyak ulama terkenal yang berdatangan dari seluruh Aceh, termasuk Teungku Muhammad Daud Beureu-eh namun tidak dihadiri oleh Teungku Abdurrahman karena ia sedang dirawat di rumah sakit di Kutaraja. Karena itu peranan Teungku Abdurrahman sebagai ketua panitia pertemuan dilaksanakan oleh Teungku Syekh Hamzah Peusangan, yakni wakil ketua panitia. Akan tetapi, Teungku Syekh Hamzah tidak dapat meneruskan tugasnya, maka pimpinan rapat ia serahkan kepada Teungku Ismail Yakub.

Perguisa

Madrasah-madrasah yang ada di Aceh hingga pertengahan dasawarsa 1930-an masih berstatus ibtidaiyah, sehingga terpaksa merantau ke luar daerah apabila bermaksud melanjutkan pendidikan, seperti ke Suamtera Barat. Di pusat-pusat pendidikan Islam moderen itu, putera-puteri Aceh bukan saja berkenalan dengan nilai-nilai baru, melainkan juga memperoleh tempaan melalui program kurikuler dan ekstrakurikuler.

Ketika kembali dari perantauan, sebagian generasi muda Aceh lulusan madrasah di Sumatera Barat menjadi guru di madrasah-madrasah yang telah ada sebelumnya di Aceh, sebagian lainnya membangun dan mengorganisasi madrasah baru, baik di kampung asalnya maupun di tempat lain. Akan tetapi, setiap madrasah itu mengalami perkembangan berbeda dengan dayah yang telah ada di Aceh pada waktu itu.

Dalam proses belajar-mengajar, madrasah menganut sistem kelas, membolehkan anak laki-laki bercampur dengan anak perempuan, adanya mata pelajaran umum dan sebagainya. Selanjutnya madrasah juga menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler berupa kegiatan Kepanduan di Perguruan Al Muslim, Rakyat Indonesia Baru di Madrasah Saadah Abadiyah Sigli. Serikat Pelajar Islam Aceh kemudian berubah menjadi Perkumpulan Angkatan Muda Islam Indonesia yang didirkan oleh Ali Hasjmy, Said Abubakar, dan A. Jalil Amin.

Organisasi Muhammadiyah mendirikan Perguisa sebagai usaha untuk mempersatukan guru-guru madrasah. Pada tahun 1937, Teungku Ismail Yakub diangkat untuk memimpin Perguisa tersebut.

Untuk membangun perguruan Islam tingkat menengah sebagai kelanjutan Madrasah Ibtidaiyah maka Muhammadiyah mendirikan Sekolah Leergang di Kutaraja di bawah pimpinan Teungku Ismail Yakub, dua tahun kemudian dirubah nama menjadi Darul Muallimin dengan pimpinan Teungku Hasbi Ash Siddiqie.

Pemimpin atau guru madrasah dengan sendirinya menjadi pusat orientasi dan integrasi masyarakat yang sebelumnya hanyalah berada di sekitar figur ulama tradisional yang berbasis dayah atau figur uleebalang. Salah seorang di antara mereka yang cukup populer pada akhir dasawarsa 1930-an adalah Teungku Muhammad Daud Beureu-eh, perbuatan maksiat yang berkembang dalam masyarakat dan situasi umat yang terkotak-kotak oleh persoalan khilafiyah talah menyadarkan Teungku Muhammad Daud Beureu-eh akan perlunya membentuk sebuah wadah perjuangan. “Supaya tidak ketinggalan zaman”, kata Teungku Ismail Yakub, guru Madrasah Darul Maarif Blang Jruen, ulama sebagai pewaris nabi harus merespon pertumbuhan madrasah yang sedang tumbuh bagai jamur di musim hujan dan sekaligus berada dalam persatuan. Hal itu dikatakan oleh Teungku Ismail Yakub dalam preadvisnya yang berjudul mendirikan pendirian PUSA tanggal 5 April 1939 di Matang Glumpang Dua. Ia mengemukakan bahwa ada enam butir dasar pemikiran urgensinya pembentukan organisasi baru bagi ulama di Aceh yaitu PUSA, sebagaimana yang telah disarikan di atas.

Bertitik tolak dari kesadaran itu, maka guru-guru madrasah di pantai utara di bawah pimpinan Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap pada tanggal 5 Mei 1939 mengorganisir pertemuan ulama untuk membicarakan pembentukan wadah organisasi. Pertemuan yang dihadiri sekitar 70 orang peserta itu menghadirkan pembicara antara lain Teungku Ismail Yakub, Teungku Muhammad Daud Beureu-eh, Hamka, dan Teungku M. Nur el Ibrahimy. Kemudian menyetujui pembentukan PUSA.

PUSA segera disambut secara antusias oleh masyarakat Aceh ketimbang Muhammadiyah yang telah 16 tahun lebih dahulu berdiri di Aceh. Para pemin PUSA seperti Teungku Muhammada Daud Beureu-eh, T.M. Amin, M. Nur el Ibrahimy, dan Teungku Ismail Yakub memanfaatkan jaringan madrasah yang telah ada untuk memperkenalkan dan mensosialisasikan PUSA kepada masyarakat.