Tgk. H. Mahjiddin Jusuf

Tgk. Mahjiddin Jusuf merupakan salah seorang ulama Aceh yang menaruh perhatian besar dalam mendidik masyarakat untuk cinta kepada Al-qur’an. Dalam pandangannya, al-qur’an adalah sebuah tuntunan yang bukan saja harus dibaca oleh masyarakat, tetapi juga harus dipahami dan diamalkan oleh setiap muslim.

Dakwah-dakwahnya yang bertujuan agar masyarakat kembali kepada Islam dengan mempelajari al-qur’an, sebagiannya ia sampaikan dengan menggunakan bahasa sastra berupa hikayat, pantun dan syair. Salah satu karya besarnya dan sekaligus sebagai bukti keinginannya agar masyarakat Aceh gemar mempelajari isi Al-qur’an adalah usahanya menterjemahkan Al-qur’an ke dalam bahasa Aceh dengan menggunakan bahasa syair.

Pendidikannya

Tgk. Mahjiddin Jusuf dilahirkan di Peusangan kabupaten Aceh Utara pada tanggal 16 Septermber 1918. Ayahnya yang bernama Tgk. Fakir Jusuf adalah seorang ulama dan sekaligus dan pengarang syair dan hikayat yang amat dikenal oleh masyarakat di Peusangan. Dengan demikian, dalam diri Tgk. Mahjiddin Jusuf mengalir darah dan bakat keulamaan dan sastrawan yang kelak setelah ia dewasa bakat tersebut mengantarnya sukses sehingga dikenal dan dikagumi oleh masyarakat Aceh.

Sejak kecil, Tgk. Fakir Jusuf telah memberikan dasar-dasar pengetahuan agama Islam kepada Tgk. Mahjiddin Yusuf agar putranya ini tumbuh menjadi manusia yang berakhlak dan berguna bagi agama. Setelah Tgk. Mahjiddin Jusuf mendapatkan dasar-dasar pengetahuan agama dari kedua orang tuanya, ia kemudian mulai menapaki pendidikan secara formal dan lembaga pendidikan yang ia pilih adalah dayah. Ada beberapa dayah yang sempat ia kunjungi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dari teungku, diantaranya adalah dayah Darul Sa’adah di desa Cot Bada Peusangan.

Setelah mendapatkan pengetahuan dasar berupa bahasa Arab, Fiqh, dan Tafsir, Tgk. Mahjiddin Jusuf melanjutkan pendidikannya di Madrasah Al-Muslim Matang Gelumpang Dua. Madrasah ini adalah madrasah yang didirikan oleh ulama yang berfaham pembaharuan sehingga kurikulum dan cara belajar di madrasah ini menggunakan kurikulum dan cara belajar moderen. Tgk. Mahjiddin Jusuf menyelesaikan pendidikannya di madrasah ini pada tahun 1937.

Tgk. Mahjiddin Jusuf adalah sosok yang selalu merasa haus terhadap ilmu pengetahuan. Ia tidak puas dengan hanya belajar hingga tingkat aliyah di madrasah al-Muslim itu. Karenanya, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam. Ia kemudian berangkat ke Sumatera Barat dan belajar di sekolah Normal Islam hingga tahun 1941.

Di awal abad dua puluh, Sumatera Barat merupakan pusat pendidikan Islam, khususnya pendidikan Islam dalam bingkai gerakan pembaharuan. Banyak putra-putri Aceh yang berangkat ke Sumatera Barat untuk menimba ilmu disana sehingga ketika mereka kembali ke Aceh menjadi ulama dan tokoh masyarakat.

Aktivitas Agama dan Sosial

Sama seperti ulama dan tokoh agama Islam Aceh lainnya, Tgk. Mahjiddin Jusuf membangun masyarakat melalui dunia pendidikan. Sekembalinya ke kampung halaman dari perantauan di Sumatera Barat, ia bergabung dengan lembaga pendidikan madrasah Al-Muslim di Peusangan. Karena keaktifan dan ketekunannya mengajar dan membina murid-murid di madrasah ini, Tgk. Mahjiddin Jusuf akhirnya dipercaya untuk memimpin madrasah Al-Muslim. Di samping aktif mengajar di madrasah ini, bakatnya sebagai orang yang mampu mengolah bahasa dalam bentuk syair tetap ia pupuk. Ia mengarang beberapa syair dan hikayat dalam bahasa Aceh.

Pada tahun 1946 jabatan sebagai pimpinan madrasah Al-Muslim ia tinggalkan. Hal ini karena Tgk. Mahjiddin Jusuf dipercaya oleh pemerintah Indonesia yang baru saja merdeka dari penjajah Belanda untuk memangku jabatan sebagai Kepala Negeri (setingkat Camat pada masa kini) Peusangan. Pada masa ia berposisi sebagai kepala negeri, banyak aktivitas yang ia lakukan seperti seperti menghimpun pemuda desa untuk dilatih bidang kemiliteran dalam rangka mempertahankan Republik dari kekuatan tentara sekutu.

Walaupun pemuda-pemuda tersebut dilatih strategi kemiliteran, Tgk. Mahjiddin Jusuf selalu menananamkan aqidah yang kuat kepada mereka dan kebiasaan ibadah yang baik sehingga pemuda itu tumbuh menjadi pemuda yang cinta agama, nusa, dan bangsa. Posisi sebagai kepala negeri ia pangku hingga tahun 1948 karena selanjutnya ia dipromosikan untuk menjadi kepala Pendidikan Agama Provinsi Aceh.

Ketika Provinsi Aceh dihapus dan dileburkan menjadi satu dengan Provinsi Sumatera Utara, ia dipindahkan ke Medan dan diangkat menjadi kepala Pendidikan Agama Propinsi Sumatera Utara. Tgk. Mahjiddin Jusuf termasuk tokoh Aceh yang menentang kebijakan pemerintah RI yang meleburkan provinsi Aceh ke dalam provinsi Sumatera Utara. Ia tidak lama memangku jabatan itu. Pada tahun 1952, Tgk. Mahjiddin Jusuf kembali ke Aceh dan meninggalkan jabatan sebagai kepala Pendidikan Agama. Tgk. Mahjiddin Jusuf adalah tokoh yang teguh pendirian dan tanpa kompromi dalam membela kebenaran. Ketika peristiwa pemberontakan Aceh meletus, pada tahun 1953 ia ditangkap dan dibawa ke Binjai untuk dipenjara. Empat tahun lamanya ia ditahan di penjara tersebut.

Sebagai seorang yang terdidik dan memiliki pengetahuan yang dalam tentang agama Islam – ia amat menguasai ilmu nahwu, bayan, ma’ani dan tafsir – ditambah lagi dengan bakatnya sebagai seorang penyair, masa empat tahun dipenjara ia isi dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Ia amat yakin bahwa sebaikk-baik manusia adalah manusia yang dapat memberi manfaat kepada orang lain. Sebagai perwujudan akan keyakinannya itu, maka ia mengisi sebagian besar waktunya dengan berdakwah kepada seluruh penghuni penjara, baik yang beragama Islam maupun non Islam. Kepada yang beragama Islam ia ajak dan bimbing untuk mengamalkan ajaran Islam seperti shalat yang dilakukan secara berjamaah dan mengerjakan puasa Ramadhan, sementara kepada non muslim ia sampaikan tentang kebesaran Allah dan kebenaran agama Islam. Hasil dari aktifitas dakwahnya selama empat tahun dipenjara, ada sembilan orang non muslim beralih agama menjadi muslim.

Selain melakukan dakwah dan mengisi pengajian agama kepada penghuni penjara, Tgk. Mahjiddin Jusuf juga mengisi hari-harinya dengan menterjemahkan Al-qur’an ke dalam bahasa Aceh. Uniknya, terjemahan ini bukan sekedar ke dalam bahasa Aceh, tetapi juga terjemahannya disusun dalam bentuk bahasa syair. Awalnya kegiatan ini tidak ia tekuni secara serius, dalam arti, hanya sekedar mengisi waktu selama berada di penjara dan baru ia lakukan secara serius setelah Tgk. Mahjiddin Jusuf keluar dari penjara. Selama empat tahun di penjara ia berhasil menterjemahkan tiga surat Al-qur’an, yaitu: surat Yasin, surat Al-Kahfi, dan surat Al-Insyiah.

Setelah Tgk. Mahjiddin Jusuf keluar dari penjara ia kemudian melakukan penterjemahan Al-qur’an ke dalam bahasa Aceh secara serius. Salah seorang yang memberi semangat kepadanya untuk pekerjaan ini adalah Abu Daud Beureueh, ulama dan tokoh masyarakat Aceh yang merupakan sahabat karibnya. Dengan dorongan semangat itu, Tgk. Mahjiddin Jusuf dapat menyelesaikan penterjemahan al-Qur’an secara lengkap. Jejak yang dilakukan olehnya mengingatkan orang kepada ulama besar Aceh masa lampau yaitu Syeikh Abdur Rauf atau dikenal dengan sebutan Syiah Kuala yang hidup pada abad ke 17. Ulama Aceh inilah yang pertama kali menterjemahkan kitab suci al-Qur’an ke dalam bahasa Melayu.

Berikut contoh terjemahan ayat-ayat suci Al-qur’an yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Aceh dengan bentuk syair. Surat Al Fatihah, ayat 1 dan 2:

Ngon Nama Allah lon Peuphon surat
Tuhan Hadharat yang Maha Murah
Tuhanku sidroe geumaseh that-that
Donya akhirat rahmat meulimpah

Sigala pujoe bandum lat batat
Bandum yang meuhat milek Potallah
Nyang peujeut alam timu ngon barat
Bandum lat batat beunejeut Allah.

Tgk. Mahjiddin Jusuf adalah ulama yang aktif berdakwah, mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan menyampaikan ajaran Islam kepada setiap anggota masyarakat. Dalam hidupnya, beliau senantiasa menjaga waktu shalat dan selalu berusaha mengerjakan shalat secara berjamaah di mesjid. Setelah selesai shalat, adakalanya, beliau langsung berdiri di hadapan jamaah untuk memberikan siraman rohani singkatau yang dikenal dalam istilah “Kultum” (kuliah tujuh menit).

Masyarakat amat senang mendengar ceramah yang disampaikan oleh Tgk. Mahjiddin Jusuf. Hal ini bukan saja karena ceramah beliau sering diselingi dengan syair-syair Aceh, tetapi juga bahasa beliau yang santun dan mudah dicerna oleh anggota masyarakat. Dalam dakwahnya, ia juga hampir tidak pernah menyinggung perasaan orang lain. Di samping menasehati masyarakat secara resmi melalui pengajian agama, pada setiap kesempatan yang ada, Tgk. Mahjiddin berusaha mengamalkan hadits Rasul: “Sampaikan kepada setiap orang walaupun hanya satu ayat”. Karenanya, jika ia minum di warung atau di kedai, ia selalu berbicara dalam bingkai dakwah Islam.

Tgk. Mahjiddin Jusuf adalah satu dari sedikit ulama Aceh yang mampu menuangkan ide-idenya dalam bentuk buku. Disamping menulis buku syair dan hikayat dalam bahasa Aceh, ia juga ada menulis buku-buku teks pelajaran untuk murid Sekolah Rakyat Islam (SRI). Bidang yang ia tulis adalah pelajaran tafsir dan bahasa Arab yang kesemua bukunya ditulis dalam huruf Arab Melayu (jawoe). Buku yang ia tulis menjadi buku teks pelajaran di sekolah ibtidaiyah pada tahun lima puluhan. Namun karya yang paling monumental dari tangan Tgk. Mahjiddin Jusuf adalah terjemahan Al-qur’an ke dalam bahasa Aceh dalam bentuk syair yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam (P3KI) IAIN Ar-Raniry pada tahun 1999.

Berikut contoh terjemahan Surat Ali Imran, ayat 106 dan 107 yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Aceh dengan bentuk syair:

Bak uroe dudoe nyang puteh muka
Ngon itam muka dua kaphilah
Nyang itam muka teuma geutanyong
‘Oh lheuh meuiman kakaphe di kah
Jino karasa azeub bukon le
Sebab kakaphe raya that salah

Nyang puteh muka teuma that seunang
Bandum ureungnyan lam rahmat Allah
Keukai disinan sepanjang masa.