Tgk. H. Ghazali Amna

Kampung Pisang, sebuah kampung yang terletak di kecamatan Labuhan Haji merupakan kampung kelahiran Ghazali Amna. Beliau adalah salah seorang ulama, Da’i dan Muballigh serta salah seorang tokoh masyarakat Aceh, sejak kecil telah dididik oleh kedua orang tuanya untuk belajar agama. Apa lagi, lingkungan tempat tinggal Ghazali amna sangat kental menganut nilai-nilai ajaran Islam. Bakat menjadi seorang muballig dan pemimpin telah nampak pada diri Ghazali Amna.

Beliau dari kecil sangat rajin membaca Al-Qur’an dan melaksankan shalat lima waktu sehari semalam, dan juga sangat patuh kepada orang tuanya. Hal ini yang membuat kedua orang tuanya bahagia dan menyayanginya. Melihat bakat anaknya tersebut, lalu orang tua Ghazali Amna menyekolahkan anaknya sampai ke Bukit Tinggi.

Sisilah Keluarga dan Pendidikan

Ghazali Amna lahir di Kampung Pisang Labuhan Haji pada tanggal 17 Juli 1929. Ayah beliau bernama Nyakman sedang ibunya bernama Nyak Gilek. Nyakman dan Nyak Gilek berasal dari desa yang sama, yaitu desa pisang. Nyakman merupakan tokoh masyarakat dan menjabat sebagai Kepala. Disamping itu ia juga beraktifitas sebagai pedagang.

Setelah berumur lebih kurang delapan tahun, Ghazali Amna disekolahkan oleh orang tuanya ke Vervolg Landbouwklass di Labuhan Haji yaitu pendidikan umum setingkat sekolah dasar tahun 1937 sampai tahun 1942, disamping itu Ghazali Amna juga sekolah Diniyah Islam di Kuta Buloh Meukek, di sekolah Diniyah Islam tersebut, Ghazali Amna juga mengajar di Ie Dingen lebih kurang 1 Kilo meter dari Kuta Buloh Meukek. Di Kecamatan Manggeng, yang bersebelahan dengan kecamatan Labuhan Haji, Ghazali Amna juga belajar di sekolah setingkat Aliyah di Kampung Teungoh salah seorang gurunya adalah ustad Nur Hayyik.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Vervolg Landbouwklass di Labuhan Haji dan Diniyah Islam di Kuta Buloh Meukek, dan Madrasah Aliyah di kampong teungoh Kecamatan Manggeng, Ghazali Amna atas dorongan dan restu orang tua dan sanak saudaranya, berangkat melanjutkan pendidikan ke perguruan Kulliyatul Ulum (setingkat Sekolah Menengah pada saat sekarang) di Padang Panjang pada tahun 1946 sampai tahun 1948.

Di sekolah tersebut beliau diajarkan Bahasa Arab, Nahwu Saraf, Akhlaq, Tafsir, Hadits dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, beliau tidak canggung lagi dengan ilmu-ilmu tersebut, karena semasa beliau sekolah di Kampung Halamannya juga telah di ajarkan ilmu-ilmu tersebut, bahkan juga diajarkan Bahasa Asing yaitu Bahasa Inggris.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Kulliyatul Ulum dengan prestasi yang memuaskan, Ghazali Amna merasa belum cukup ilmu yang telah di timbanya. Dengan dorongan dan keinginan yang kuat untuk sukses pada masa depan, kemudian Ghazali Amna melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi Darul Hikmah di Bukit Tinggi pada tahun 1950.

Di perguruan tinggi ini, sambilan kuliah Ghazali Amna juga menyempatkan diri untuk mengajar disekolah Diniyah Islam di Kamang Bukit Tinggi. Ghazali Amna Juga aktif dalam organisasi Mahasiswa Aceh di Sumatera Barat pada waktu itu. sebagai Ketua Umum Pelajar mahasiswa Aceh. Bahkan pada tahun 1953 Tgk. Daud Beureuh yang menjabat sebagai Gubernur Aceh pada waktu itu, pernah berkunjung ke Padang sekaligus bersilaturrahmi dengan Pelajar Mahasiswa Aceh di padang Sumatera Barat. Selesai menimba ilmu pengetahuan di Sumatera Barat pada tahun 1953, kemudian beliau Hijrah kembali kekampung halamanya di Labuhan Haji Aceh Selatan.

Aktivitas Agama dan Sosial

Sekembalinya dari Sumatera Barat, Ghazali Amna disambut gembira oleh orangtua, sanak saudara dan masyarakat kampung Pisang. Kegembiraan ini lebih disebabkan karena Ghazali Amna merupakan salah seorang putra kampung Pisang yang telah berhasil menimba ilmu pengetahuan di Sumatera Barat. Di kampong halamannya, Ghazali Amna menerjunkan diri ke lembaga pendidikan dan diangkat sebagai guru di beberapa sekolah yang ada dikecamatan Labuhan Haji. Di sekolah-sekolah tersebut, Ghazali Amna mengajar ilmu-ilmu yang pernah ia pelajari di bangku Kuliahnya semasa di Sumatera Barat, seperti Bahasa Arab, Nahwu Saraf, Akhlaq, Tafsir, Hadits, Sejarah Islam dan sebagainya.

Selain menyampaikan ilmunya lewat lembaga pendidikan, Ghazali Amna juga mentransformasikan ilmunya melalui mimbar, atau dikenal sebagai muballigh. Sebagai seorang Muballigh kemampuan berpidato, atau berceramah Ghazali Amna sangat memukau dan menarik, karena bahasa yang digunakan sangat sesuai dengan tingkat berpikir masyarakat awam. Bahasanya mudah difahami, mudah dimengerti, dan sering diselingi dengan humor yang bermanfaat sehingga mampu membangkitkan kesadaran ummat Islam untuk melaksanakan Ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yang lebih menarik, masyarakat tidak bosan-bosan menerima siraman rohani yang disampaikan oleh Ghazali Amna.

Suatu waktu pernah beliau berceramah selama lebih dua jam. Walaupun telah lama ia berbicara, para hadirin tetap berada di tempat untuk mendengar ceramahnya. Bahkan ketika ia hendak menutup ceramahnya, salah seorang dari para audien mengancungkan jari seraya meminta ditambahi waktu yang panjang lagi untuk Tgk. Ghazali Amna menyampaikan ceramahnya.

Aktivitas Ghazali Amna dalam bidang pendidikan dan dakwah Islam tidak saja dilakukan di kampung Pisang Kecamatan Labuhan Haji, akan tetapi beliau sering di undang oleh kecamatan-kecamatan yang berdekatan dengan Kecamatan Labuhan Haji, seperti di kecamatan Manggeng, di kecamatan Blang Pidie, Susoh, Kuala Batee, Kecamatan Meukek, Kecamatan Sawang dan kecamatan lainnya. Ghazali Amna tidak kenal lelah, dengan keikhlasan dan kemaun yang sangat kuat yang telah terpatri dalam dirinya, untuk terus menerus mensyiarkan serta mendakwahkan nilai-nilai ajaran Islam ketenga-tengah masyarakat. Aktivitas pendidikan dan Dakwah Islam yang di laksanakan di kampung halamannya berlangsung dari tahun 1953 sampai tahun 1960.

Pertengahan tahun 1960 Ghazali Amna dan keluarga kemudian hijrah ke Banda Aceh dan menetap di Jl. Pattimura No. 53 Blower, Banda Aceh. Di Banda Aceh, Ghazali Amna memulai usaha dagang distributor dan Grosir Semen Padang dengan mendirikan PT. Adi Setia Cooperation yang terlebih dahulu telah dirintis oleh pamannya dan Ghazali Amna langsung menjadi direktur PT tersebut. Sambilan melakukan usaha perdagangan, Ghazali Amna juga aktif di Organisasi Muhammadiyah Banda Aceh.

Dalam organisasi Muhammadiyah, Ghazali Amna terus menerus berkecimpung melaksanakan aktivitas-aktivitas dakwah dan pengajian-pengajian serta ceramah-ceramah umum baik yang bersifat mingguan maupun bulanan. Beliau bersama-sama dengan pengurus Muhammadiyah yang lainnya juga turut aktif turun ke Pimpinan Cabang serta Ranting Muhammadiyah untuk melakukan aktivitas organisasi sambil melakukan dakwah Islam.

Pada tahun 1963, beliau dipercayakan sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banda Aceh, disamping itu beliau juga termasuk anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Aceh. Tahun 1965 sampai tahun 1968 di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh beliau dipercayakan sebagai Bendahara. Pada perode 1968 sampai tahun 1971 Beliau kembali terpilih sebagai wakil ketua. Periode 1971 sampai tahun 1974 Wakil Ketua. Pada periode 1974 sampai tahun 1977 wakil Ketua. Periode 1978 sampai tahun 1981 wakil ketua. Periode 1985 sampai tahun 1990 Juga menjabat sebagai wakil ketua. Pada tahun 1990 sampai tahun 1995 sampai sekarang, beliau dipercaya sebagai penasehat di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh.

Di luar organisasi Muhammadiyah,

Ghazali Amana juga aktif melaksanakan dakwah Islam, seperti pada tahun 1977 sampai tahun 1982 beliau menjadi penceramah pada kapal NV. Cut Nyak Dien membantu tugas Team Perjalanan Haji Indonesia dari Mekkah. Di masjid Baiturrahmnan Banda Aceh, sebagai salah satu masjid kebanggaan Masyarakat Aceh, Ghazali Amna memberikan ceramah umum dan mengisi pengajian Tafsir seminggu sekali. Perngajian Tafsir tersebut berlangsung selama kurang lebih lima belas tahun, begitu juga halnya di Mesjid Baiturrahim Ulee Lheu Ghazali Amna juga mengisi pengajian yang sama.

Di dalam melaksanakan dakwah Islam, dalam berbagai kesempatan sering beliau ungkapkan landasan dalam berdakwah adalah firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 110 : artinya : “Kamu adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyeru kepada yang makruf mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”. Ayat tersebut, memotivasi Ghazali amna untuk melaksankan dakwah menyerukan ummat untuk melaksanakan kebaikan dan mencegah berbagai bentuk kemungkaran, sehingga manusia akan mendapat kebahagian di dunia dan akhirat kelak, demikian ungkapan Ghazali Amna.

Dalam hal perpolitikan,

Ghazali Amna juga mempunyai andil yang cukup besar dalam menggerakkan organisasi partai politik. ketokohannya di bidang Politik juga tidak diragukan lagi. Pada tahun 1973 setelah partai-partai Islam difusi menjadi satu partai yang kemudian berobah menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Ghazali Amna menjadi ketua pimpinan wilayah Partai Persatua Pembangunan Aceh pertama, pada periode kedua beliau dipercayakan kembali memimpin Partai Persatuan Pembangunan Aceh. Kemudian pada tahun 1977 sampai tahun 1982 beliau menjadi Anggota DPRD TK I Aceh. Tahun 1982 sampai tahun 1987 Beliau diangkat oleh pemerintah menjadi Anggota MPR-RI. Pada Tahun 1988 samapi tahun 1993 menjadi anggota DPR-RI.