Tgk. Abdullah Arif

Tgk. Abdullah Arif adalah seorang ulama dan sekaligus sastrawan Aceh. Walaupun sosoknya sering dipandang sebagai sosok sastrawan karena banyak mengarang hikayat-hikayat dan syair, namun pengetahuan agamanya amatlah luas dan mendalam. Lewat berbagai karya sastranya, ia mengekspresikan kedalaman pengetahuan dan kecintaannya yang tinggi kepada Islam dalam rangka terciptanya masyarakat Aceh yang Islami dan sejahtera.

Silsilah Keluarga dan Pendidikan

Tgk. Abdullah Arif dilahirkan pada tanggal 17 Agustus 1922 di desa Dayah Tuha, kemukiman Langga, kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie. Ayahnya yang bernama Tgk. Muhammad Arif Sufi adalah seorang pemuka agama di kampungnya dan merupakan keturunan dari Syekh Jalaluddin Lam Gut seorang ulama Aceh yang mengarang kitab “Tanbihul Ghafilin”. Ketika berusia 17 tahun, Tgk. Muhammad Arif Sufi ditahan Belanda dan dibuang ke Betawi (Jakarta). Setelah empat tahun ditahan belanda di Betawi, Tgk. Muhammad Arif Sufi diizinkan kembali ke Aceh oleh Gubernur Jenderal Belanda setelah pamannya Syekh Ibrahim Lam Gut yang menjabat sebagai imam mesjid Raya Baiturrahman meminta kepada Gubernur Jenderal tersebut.

Sementara ibunya yang bernama Tgk. Nyak Aminah adalah seorang wanita yang masih keturunan ulama-ulama Tiro yang secara terus menerus melawan penjajahan Belanda. Tgk. Abdullah Arif adalah putra kedua dari Tgk. Muhammad Arif Sufi dengan Tgk. Nyak Aminah. Sementara putra pertamanya yang bernama Muhammad Ali Arif meninggal ketika berusia 27 tahun dalam peristiwa berdarah Cumbok, pertentangan antara ulebalang dengan ulama di Cumbok Pidie pada tahun 1945. Dengan demikian, dalam diri Tgk. Abdullah Arif mengalir darah keulamaan dan pahlawan dalam menegakkan Islam dan menumpas penjajah Belanda.

Ketika Abdullah Arif berusia empat tahun, ayahnya yang bernama Tgk. Muhammad Arif pindah dari Pidie ke desa Lam Gut Aceh Besar. Kepindahannya ke Aceh Besar ini adalah dalam rangka melanjutkan kepemimpinan dayah yang telah dibangun oleh orang tuanya Tgk. Syeikh Sufi Jalaluddin. Namun baru dua tahun memimpin dayah ini, Tgk. Muhammad Sufi berpulang ke rahmatullah. Beberapa bulan kemudian, ibunda Tgk. Abdullah Arif bersama dengan anak-anaknya pindah kembali ke Langga Pidie.

Sebagaimana layaknya putra-putri Aceh lainnya, Abdullah Arif mendapatkan dasar-dasar pengetahuan agama dari ibunya yang juga berprofesi sebagai guru mengaji (gure seumebut) di dirumahnya pada malam hari. Ketika Abdullah Arif telah berusia 8 tahun, ia mulai belajar secara formal dan sekolah formal pertama yang ia tempuh adalah Inlandsche Volkschool (sekolah dasar rakyat). Dengan ketekunannya, ia berhasil menamatkan pendidikan di sekolah ini dalam tiga tahun. Setelah menamatkan pendidikan di sekolah ini, ibunya bermaksud memasukkannya ke dayah milik ayahnya di Lam Gut Aceh Besar. Namun Abdullah Arif bersikeras untuk melanjutkan studinya di Perguruan Islam Teungku Abdul Wahab Seulimum Aceh Besar. Sekolah ini adalah sekolah moderen dan salah seorang guru yang mengajar di sekolah ini adalah Ali Hasjmy yang baru kembali dari pendidikannya di Sumatera Barat. Ide-ide dan pemikiran Ali Hasjmy amat berpengaruh dalam proses pembentukan bakat dan pola pikir Tgk. Abdullah Arif.

Semasa belajar di sekolah ini, Tgk. Abdullah Arif mulai menunjukkan bakat mengarangnya. Ia mulai menulis karangan dan diterbitkan dalam surat kabar milik Jepang yang bernama Atjeh Sinbun. Dengan semangatnya yang tinggi untuk mencari ilmu, selanjutnya ia melanjutkan pendidikan ke Normal Institut yang baru berdiri di Bireun. Tidak lama kemudian, ia berangkat ke Jakarta dan menjadi mahasiswa pada Universitas Ibnu Khaldun. Tidak lama belajar disini, ia melanjutkan pendidikannya di IAIN Ar-Raniry dan berhasil meraih gelar Sarjana Muda pada tahun 1965 pada jurusan Dakwah. Pada tahun 1967, Tgk. Abdullah Arif berangkat ke Mesir bersama dengan 17 orang mahasiswa Indonesia lainnya dari IAIN seluruh Indonesia dan ia ditunjuk sebagai pimpinan rombongan.

Berkat ketekunan, kedisiplinan dan kerja kerasnya, Tgk. Abdullah Arif bersama dengan enam orang mahasiswa Indonesia lainnya selanjutnya diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat Magister (S2) di Universitas Al-Azhar Kairo. Ia lulus dengan nilai baik sekali dan mendapatkan gelar Master of Arts (MA) dalam bidang studi “Dakwah wal Irsyad”. Program S2 ini dapat ia selesaikan dalam waktu relatif singkat, yaitu dua tahun. Menjelang akhir hayatnya, Tgk. Abdullah Arif sedang menyiapkan disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor dalam bidang yang sama dan dari universitas yang sama. Ia menguasai beberapa bahasa asing dengan baik, seperti bahasa Arab, Inggris, Jepang, Belanda, dan Perancis.

Aktivitas Agama dan Sosial

Tgk. Abdullah Arif adalah sosok multi dimensional, dalam arti, ia anak manusia serba bisa. Berbekal kemampuannya menguasai bahasa asing dengan baik, berbagai kegiatan dan aktifitas dapat ia masuki. Pengetahuannya yang dalam tentang Islam dan keyakinannya yang kuat terhadap Allah merupakan pondasi Tgk. Abdullah Arif dalam memasuki berbagai pekerjaan yang ia geluti. Disamping sebagai ulama, ia juga dikenal sebagai seorang dosen, administrator, wartawan, perwira, dan sastrawan Aceh produktif. Dari tangannya lahir buku-buku hikayat berbahasa Aceh yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan dan penguatan aqidah.

Ia mulai menulis dan tulisannya muncul pertama kali di surat kabar Atjeh Sinbun adalah ketika usia remaja dan sedang belajar di perguruan Islam Tgk. Abdul wahab Seulimum. Sejak itu Tgk. Abdullah Arif terus aktif menulis dan mengasah bakatnya tersebut. Beruntung ia, pada tahun 1942 Tgk. Abdullah Arif diterima sebagai wartawan koran lokal tersebut dan karirnya dalam bidang kewartawanan terus menanjak naik. Karena ia menguasai bidang kewartawanan tersebut, maka ia selanjutnya bekerja pada Jawatan Penerangan Aceh di Banda Aceh (waktu itu bernama Kutaraja), Biro Politik Kabinet Menteri Penerangan di Jakarta dan juga pernah memangku jabatan sebagai ahli tata usaha / Sekretariat Kabinet Menteri Penerangan di Jakarta

Sebagai sosok yang pernah mengecap pendidikan di Perguruan Islam Tgk. Abdul Wahab Seulimum, mahasiswa IAIN dan meraih gelar Master of Arts dari Al-Azhar, pengetahuan agama Tgk. Abdullah Arif tidak diragukan lagi. Sejak muda ia sudah aktif di organisasi Pemuda Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Karena keulamaannya, ia juga masuk dalam jajaran pengurus Majlis Ulama Indonesia (MUI) Aceh pada tahun 1969 ketika kepemimpinan MUI Aceh diketuai oleh Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba. Jika kita membaca karya sastranya, baik yang berupa pantun maupun hikayat, karyanya tersebut sarat dengan pesan-pesan akhlak

Sisi yang unik dari keulamaan Tgk. Abdullah Arif adalah jalur yang ia gunakan dalam mendidik masyarakat tidaklah sama dengan beberapa ulama Aceh lainnya. Dengan kata lain, sebagian besar ulama Aceh lainnya menyebarkan pengetahuan dan mendidik masyarakat dengan cara mendirikan lembaga pendidikan atau dayah. Tidak demikian halnya dengan Tgk. Abdullah Arif, keulamaannya menonjol dalam menyebarkan pengetahuan dan mendidik masyarakat melalui tulisan-tulisan, baik berupa buku ilmiyah dan dalam bentuk pantun dan hikayat serta dalam bentuk artikel lepas di berbagai media terbitan Banda Aceh, Medan, dan Jakarta. Walaupun demikian, kepeduliannya terhadap dunia pendidikan amatlah tinggi. Sebagai bukti akan kepeduliannya, ia pernah membangun sebuah madrasah ibtidaiyah di kampung halamannya, di Langga. Ia juga aktif tercatat sebagai salah seorang dosen di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan pernah menduduki posisi sebagai pembantu dekan di fakultas ini

Melihat banyaknya buku-buku hikayat yang ditulis oleh Tgk. Abdullah Arif, sepintas terlihat bahwa sosok sastrawannya lebih menonjol dari pada keulamaannya. Padahal kalau diteliti lebih mendalam, justru keulamaannya yang lebih menonjol, dalam arti, ia mampu menyampaikan pesan-pesan agama dalam bahasa yang komunikatif dengan masyarakat Aceh, yaitu lewat bahasa sastra berupa pantun. Dengan bahasa seperti ini, maka masyarakat akan mudah mencerna dan menerima pesan-pesan agama Islam. Konon, ada beberapa orang yang menghafal dengan baik bahasa pantun yang ditulis oleh Tgk. Abdullah Arif.

Dalam masyarakat Aceh, syair menduduki posisi penting sebagai bahasa pendidikan. Sebagian besar ulama terdahulu menyampaikan pesan-pesan agama kepada muridnya, baik secara lisan maupun tulisan, menggunakan bahasa syair. Hikayat “Prang Sabi” karangan Tgk. Chik Pante Kulu, misalnya, mempunyai pengaruh yang kuat di sanubari masyarakat Aceh sehingga bergerak tanpa takut menghadapi penjajah Belanda. Nampaknya Tgk. Abdullah Arif amat memahami kondisi sosial masyarakat Aceh seperti ini, sehingga ia menggunakan bahasa syair sebagai media pembelajaran masyarakat dan media penyampaian pesan-pesan akhlak Islam.

Salah satu hikayatnya yang sarat dengan pesan-pesan agama adalah hikayat yang berjudul “Hikayat Penganten Baro”. Dari judulnya terlihat bahwa hikayat ini berbicara tentang akhlak orang yang akan dan baru memulai membina rumah tangga. Hikayat ini berbicara tentang lima hal: (1) Mita Judo, (2), Masa meutunangan, (3) Malam Mampleu, (4) Pinto bahgia, (5) Rumoh tangga. Keberhasil Tgk. Abdullah Arif dalam bidang sastra ini tidak terlepas dari peran bantuan yang diberikan oleh istrinya, Aminah A.A. yang juga dikenal sebagai seorang penyair Aceh.

Salah satu pantun nasehat yang ia tulis dalam buku Panton Atjeh (Panton Ureung Tuha) adalah :

Mangat-mangat boh pisang abin
Bu leukat boh drien nyang leubeh rasa
Ketika kaya ingat keugasin
Oh jan meusekin bek ro ie mata

Demikian pula kecintaannya terhadap tanah Aceh dan Islam demikian besar. Ia banyak mengarang hikayat yang berkaitan dengan cinta terhadap masyarakat Aceh agar hidup rukun dan tidak bersengketa. Tgk. Abdullah Arif amat sedih melihat peristiwa cumbok dan pemberontakan DI/TII dimana rakyat yang menjadi korban.

Dalam salah satu syairnya ia menulis:

Ureung meularat rakyat ka phangphoe
Sabe keudroe-droe meuseunoh teuga
Deungon Belanda gohlom seuleuso
Deungon bangsa droe tapeudong da’wa.

Masyarakat yang ia dambakan adalah masyarakat yang hidup dalam damai sejahtera dan saling bantu membantu dalam kehidupan. Salah satu syairnya yang bercerita tentang ini adalah :

Ureung seumeubeut jeuep-jeuep meunasah
Ureung jak meudrah jeuep-jeuep ulama
Nyang jak hareukat dumpat pih mudah
Hase geulangkah ban saboh donya.

Tgk. Abdullah Arif kembali ke haribaan Allah pada tanggal 6 Januari 1970 dan meninggalkan seorang istri serta tujuh anak. Ia dikebumikan di desa Lam Gut Aceh Besar. Sebagai seorang tokoh masyarakat, acara pemakamannya dihadiri oleh Muspida Tingkat I, Gubernur Aceh, Muzakir Walad, tokoh-tokoh masyarakat lainnya, mahasiswa dan masyarakat umum.

Ref: http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/02/ulama-3.html