Sejarah Berdirinya Almuslim

Pengantar
Mempelajari sejarah kehidupan dan perjuangan seorang tokoh yang telah berjasa dimasa lalu akan memberikan inspirasi bagi generasi sekarang untuk meneruskan cita–citnya dan kalau tidak sanggup melakukan sesuatu yang baik “lebih baik” paling tidak kita dapat menjaga dan memelihara apa yang telah diwariskan saat ini. Salah atu warisan khazanah itu adalah sebuah perhimpunan atau organisasi yang membidani penyelenggaraan madrasah–madrasah secara modern untuk mencerdaskan kehidupan umat Islam yangtelah jauh tertinggal. Organisasi tersebut diberi nama “AL – MUSLIM” yang didirikan oleh Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap.
Biografi Ringkas dan Pendidikannya
Teungku Abdurrahman lahir di desa Meunasah Meucap Kecamatan Peusangan kabupaten Bireuen. Desa ini terletak kira – kira 3 Kilometer ke arah utara Matang Glumpang Dua. Tanggal lahir Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap tidak diketahui dengan pasti karena orang tuanya mencatat tanggal lahir anaknya pada sampul Al – Quran tua menurut perhitungan Hijriah. Al – Quran tersebut telah hilang dan A.Hasjmy memperkirakan beliau dilahirkan sekitar tahun 1897 M. Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap meninggal pada tanggal 24 Maret 1949 ( 24 Jumadil Awal 1368 ) dan dikebumikan di belakang gedung Madrasah Almuslim sesuai dengan wasiatnya.
Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap tidak pernah memasuki sekolah formal yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda disamping karena masih berkecamuknya perang gerilya melawan Belanda juga karena adanya fatwa ulama bahwa memasuki sekolah yang didirikan orang kafir hukumnya haram. Pengaruh fatwa itu sangat melekat dalam sanubari rakyat termasuk Teungku Imum Hanafiah, ayah Teungku Abdurrahman.
Pendidikan pertama Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap diperoleh dari Ayahnya, Teungku Hanafiah yang mengajarkan Al – Quran juga kepada anak – anaka lain di meunasah kampungnya. Sebagai anak yang cerdas dalam usia 12 tahun Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap telah beberapa kali mengkhatamkan Al – Quran disamping menamatkan juga bebrapa kitab yang lain yaitu : Bidayah, Miftahul Jannah, kitab Shiratal Mustaqim karangan Syekh Nuruddin Ar – Raniry, Kitab Sabilal Muhtadin yang ditulis oleh Arsyad Al – Banjari, kitab Majmu dan kitab Furu’. Kesemua kitab ini adalah kitab jawoe.Karena kepintaran anaknya, disamping menghindari kewajiban anak Teungku Keuchik dan Teungku Imum wajib bersekolah di sekolah kafir, maka Teungku Imum hanafiah bertekad agar anaknya belajar ke tempat – tempat lain diluar peusangan. Jalan satu – satunya adalah pergi meudagang. Setelah dipertimbangkan maka Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap diantar ke dayah Ule Ceue Samalanga, sebuah dayah yang terkenal di masa itu. Dayah ini dipimpin oleh Teungku Haji Arabi atau lebih populer denga lakap Teungku di Ulee Ceue, seorang ulama yang pernah belajar puluhan tahun di Mekkah.
Di dayah inilah Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap untuk pertama kali menimba pengetahuan selain dari ayahnya. Tradisi dayah mengharuskan setiap santri baru harus telebih dahulu belajar kepada santri senior yang digelar Teungku dirangkang (asisten) yang ditunjuk oleh Teungku Dibale (Kepala Dayah) dan tidak bisa langsung belajar pada Teungku dibale. Disini untuk pertama sekali ia belajar kitab Nahwu yang paling elementer.
Selain itu bahasa Arab merupakan barang baru baginya. Karena kecerdasannya tidak berapa lama kemudian ia dapat menerima langsung pelajaran dari Teungku Dibale. Setelah nyantri di Ulee Ceue selama dua tahun, Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap yang haus ilmu mencari suasana baru di dayah lain yang masjhur karena keahlian Teungku yang mengajar dan banyaknay santri.
Lalu ia meudagang ke Peudada ke dayh yang dipimpin oleh Teungku Baden selama satu tahun. Kemudian pindah ke Dayah Cot Meurak belajar pada Teungku Haji Muhammad Amin sebagai Teungku Dibalenya beliau alumni Mekkah. Di Dayah Cot Meurak Inilah Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap belajar cukup lama yaitu sebelas tahun. Selam nyantri di Cot Meurak beliau juga pernah pindah ke dayah lain selama tiga tahun yang kemudian kembali lagi ke dayah Cot Meurak masing – masing ke dayah Tanjungan di Samalanga berguru pada Teungku H. Muhammad Tahib ; dayah Garut di Pidie pada Teungku di Yan dan Teungku di Kubang ; dayah Lhokseumawe pada Teungku Baden Peudada yang pindah kesini. Dan akhirnya kembali lagi ke dayah Ulee cue di Samalanga untuk kedua kalinya. Selama belajar di dayah Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap juga ikut mengajar sebagai Teungku dirangkang untuk para santri junior. Kalau dijumlahkan masa pendidikan yang di tempuh Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap adalah 16 tahun. Dari jumlah tahun yang dihabiskan untuk belajar dapat disamakan dengan lamanya masa pendidikan kita sekarang menjadi sarjana strata satu sejak dari Sekolah dasar.
Walaupun kualitasnya tidak dapat disamakan dengan “kealiman” orang – orang dahulu.Setelah mengembara nyantri 16 tahun menuntut ilmu diberbagai pesantren terkenal, timbul keinginannya membuka dayah sendiri di kampungnya Meunasah Meucap. Teungku Abdurrahman memiliki sepetak kebun dan kebun itu biasa disebut kebun mamplam Cangge. Diatas kebun inilah ia mendirikan sebuah dayah yang dicita – citakan.
Banyak pelajar yang pernah berguru padanya sebagai Teungku di rangkang datang belajar lagi ke dayah Teungku Abdurrahm yang baru dibuka. Dari hari ke hari dayah itu semakin ramai dikunjungi oleh para santri dari seluruh Aceh. Setelah tiga tahun mengajar di dayahnya sendiri ia berkesimpulan untuk belajar lagi karena tidak puas dengan ilmu yang telah ia peroleh selama masa pendidikannya.
Ia memutuskan berangkat ke Langkat Sumatera Timur belajar ilmu falak untuk melengkapi keahlian selama ini dalam bidang fikih. Atas keputusan ini ia meninggalkan dayahnya selama 15 bulan dan muridnya bubar. Teungku Abdurrahman dan kawan – kawan dari Aceh berguru kepada Tuan Syeikh Usman tentang ilmu mantiq (logika) dan balaghah yang didalamnya termasuk ilmu ma’ani, bayan dan badi’.
AL MUSLIM PEUSANGAN, PUSA DAN MODERNISASI MADRASAH
AlMuslim Peusangan didirikan pada tanggal 21 Jumadil Akhir 1348 Hijriah bertepatan dengan 14 November 1926 di Matangglumpangdua dan Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap terpilih sebagai ketuanya.
Tujuan organisasi ini adalah untuk mendirikan madrasah – madrasah dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan agama di Peusangan Khususnya dan Aceh Utara umumnya. Lima belas bulan kemudian pada 13 April 1930 bertepatan dengan 14 Zulkaidah 1348 Hijriah diresmikan berdirinya Madrasah Al Muslim Peusangan yang mengambil tempat di tanah wakaf sebelah Mesjid Besar matangglumpangdua.
Pada saat diresmikan gedung darurat Al Muslim Peusangan terbuat dari bambu yang berataokan daun rumbia. Pembangunan gedung permanen baru dilakukan setelah Teungku Abdurrahman dan Teungku Umar Gampong raya diutus melihat – lihat model gedung sekolah yang telah ada di Sumatera Barat. Sedang tanah bangunan gedung ini disediakan oleh Ampon Syik Peusangan Teuku Haji Syik Muhammad johan Alamsyah. Setelah disahkan oleh rapat gambar yang dibuat oleh Teungku Umar, pada 10 Muharram 1350 Hijriah bertepatan dengan 28 Mei 1931 diadakan peletakan batu pertama pembangunan gedung permanen Madrasah Al Muslim Peusangan di kota Matangglumpangdua.
Gedung peninggalan Teungku Abdurrahman sampai sekarang masih kokoh yang digunakan sebagai Biro Rektor Universitas Al Muslim Peusangan sebelum dipindahkan operasionalnya ke gedung baru berlantai tiga. Pengelolaan sekolah dan madrasah yang ada saat ini tidak lagi bernaung di bawah Jami’ah Almuslim akan tetapi dikelola oleh Yayasan Al Muslim Peusangan. Dalam rentang waktu yang cukup signifikan di yayasan ini terdapat sebuah Unversitas Al Muslim dengan enam fakultas dan sejumlah program studi selain Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah. Kealiman dan keprihatinan Teungku Abdurrahman terhadap kondisi sosial pada saat itu sangat merugikan ulama dan umat Islam karena politik pasifikasi Belanda. Dimasa itu hubungan seorang ulama dengan ulama lainnya tidak harmonis akibatnya keadaan ini dimanfaatkan oleh penjajah untuk mengadu domba agar kekuatan ulama melemah diantaranya dengan menghebuskan masalah khilafiah. Setelah disampaikan kepada beberapa ulama tentang idenya agar para ulama diseluruh Aceh bersatu dalam satu wadah maka pada tanggal 5 Mei 1939 bertepatan dengan 2 Rabiul Awal 1358 Hijriah para ulama seluruh Aceh mengadakan musyawarah di gedung madrasah Al Muslim Peusangan dan hasil musyawarah itu dibentuklah sebuah organisasi yang diberi nama Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Tujuan Persatuan Ulama Seluruh Aceh :Untuk menyiarkan, menegakkan dan mempertahankan syiar Islam yang suci, terutama di Tanah Aceh yang dijuluki Serambi Mekkah pada masa keemasannya dimasa sampai sekarang, telah berubah menjadi satu negeri yang amat tertinggal dengan tetangganya yang berdekatan apalagi yang berjauhan, dan sudah demikian lamanya terbenam dalam lembah kejahilan dan kegelapan. Hendak berusaha sekuat tenaga mempersatukan paham ulama – ulama Aceh dan menerangkan hukum – hukum agama dimanapun, seperti yang telah dialami pada masa – masa lampau, pertikaian paham antara ulama – ulama kita, sering juga membawa kepada akibat yang tidak kita ingini, begitu juga pertikaian paham itu menjadi batu sandungan yang dapat mencegah kemajuan Islam yang suci. Berusaha memperbaiki dan mempersatukan kurikulum sekolah – sekolah agama di seluruh aceh.
Pada saat Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap belajar di Langkat dia melihat model pendidikan Madrasah disana lebih maju dan modern. Aktifitas belajar mengajar disana memakai bangku dan papan tulis disamping itu masa belajarnya juga lebih singkat dengan hasil yang lebih saat itu. Akhirnya Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap memutuskan mengadopsi cara dan model pendidikan disana ditetapkan di Madrasah Al Muslim. Selain mengubah sistem belajar, Madrasah Al Muslim juga secara berangsur – angsur memasukkan mata pelajaran umum dalam kurikulumnya dengan catatan mata pelajaran umum tidak dinamakan pelajaran umum dan tidak diajarkan dalam bahasa Indonesia tetapi diajarkan dalam bahasa Arab misalnya berhitung disebut ilmu hisab, ilmu bumi diberi nama Jugrafi, dan logika disebut Mantiq.
Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap merupakan salah seorang ulama Aceh yang memiliki komitmen yang tinggi dalam upaya membangun fondasi pendidikan di Aceh agar lebih maju dan modern pengelolaannya.
DEWAN KURATOR (Penyantu) SEKOLAH GURU.
Setelah tujuh bulan PUSA didirikan langkah awal organisasi ini mewujudkan cita – cita adalah menyatukan kurikulum pelajaran sekolah – sekolah Islam di seluruh Aceh. Usaha unifikasi kurikulum mustahil dapat dilaksanakan tanpa terlebih dahulu gurunya di upgrade kemampuannya sesuai rencana kurikulum baru dan disekolahkan mereka di Normal Islam Institut yang lebih terkenal dengan sekolah guru. Ustaz M.Nur el ibrahimy (muridnya) menempati posisi Direktur sekolah ini dan dewan kuratornya dipercayakan kepada Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap.
Sebuah RefleksiTeungku Abdurrahman Meunasah Meucap adalah seorang tokoh pembaharuan pendidikan di Aceh yang pemikirannya telah melampaui masanya dalam berpikir. Ia terus menerus berusaha agar umat Islam di Aceh khususnya maju pola pikirnya. Jalan terbaik yang ditempuhnya adalah melakukan reformasi terhadap kondisi pendidikan yang ada agar kemajuan umat dapat dipacu. Al Muslim Peusangan telah menghasilkan para ulama yang pandai membaca kitab, berakhlak mulia dan jadi panuatan ditengah masyarakat karena kredibilitas ilmu dan keistiqamahnya dalam menjalankan agama.
Diharapkan agar semua akademika Universitas Al Muslim terpicu dengan semangat pembaharu pendidikan di Aceh ini untuk terus menerus belajar dan belajar tanpa merasa puas. Dan hal ini merupakan perintah agama kepada umat Islam.

Diposkan oleh di 22:32 Tidak ada komentar: Link ke posting ini

 ALMUSLIM PEUSANGAN DALAM LINTASAN SEJARAH PERADABAN Dr.Zaki Fuad Chalil, M.AgDosen dan Diektur Diploma III Perbankan Islam Fakultas Syariah IAINAr- Raniry Darussalam Banda Aceh