Aliran Sesat (Aceh)

Berbagai paham aliran sesat yang berkembang di Aceh

  1. Paham aliran Laduni [bertempat di Desa Beuragang dan Meunasah Rambot, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat]. Pengikutnya berprinsip shalat fardhu cukup Maghrib, Isya dan Shubuh saja, sedangkan Zuhur dan Ashar tergantung pada kesanggupan pengikutnya. Kalau sanggup boleh ditunaikan (Serambi, 2/9/2012).
  2. Paham Millatta Abraham [muncul di Peusangan, Bireuen] pengikutnya berkisar 700 orang di seluruh Aceh (Serambi, 8/4/2011).
  3. Paham aliran sesat pimpinan Ahmad Arifin [tumbuh di Aceh Tenggara pada 1978], paham ini meyakini bahwa alam raya sudah ada sebelum adanya Allah.
  4. Gerakan paham Ma’rifatullah pimpinan Ilman Lubis [tumbuh di Simeulue pada 1982], yang sempat merembes ke Banda Aceh. Ajaran ini menerangkan kiblatul iman terdiri dari kiblat tubuh, nyawa, hati, dan sirr.
  5. Ada pula aliran tarekat Sufiyah Sumaniyah yang konon warisan Syeikh Ibrahim Bonjol [berkembang di Aceh pada 1982]. Aliran ini menganggap haji tidak wajib, tapi cukup dengan mensucikan diri [aliran ini muncul di Kuala Simpang yang disebarkan oleh Abdul Majid Abdulah. Aliran ini, mengharamkan surat yasin dan wirid, namun daging anjing malah dihalalkan.
  6. Paham aliran Bantaqiyah yang diduga punya garis keyakinan yang sama dengan ajaran Wujudiyah (bersatu dengan Allah), yang sejak abad 16. Paham ini mengumbar tata cara ibadah bak ajaran Syekh Siti Jenar yang menyebarkan keyakinan fana fillah (musnah dalam Allah) dan anal al-haq (akulah tuhan). Ajaran yang digagas sufi kontroversial Al-Hallaj.
  7. Paham aliran Pembaru Isa Bugis. Aliran ini mengklaim lembaga pembaru yang dipimpin oleh Isa Bugis adalah nur, sedangkan orang-orang yang berada di luar lembaga Isa Bugis adalah zhulumat, sesat serta kafir.
  8. Selain itu Islam Jamaah/Lemkari yang selanjutnya berubah nama menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Aliran ini mengklaim orang Islam di luar kelompok mereka adalah kafir dan najis.
  9. Selain itu, ada aliran Syiah yang mulai berkembang di tahun 1984 pada kalangan sebagian anak muda. Aliran ini telah difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama yang Muspida dan Majelis Permusyawaratan (MPU) Aceh, pada 2011 lalu juga melarang aliran Syiah, karena akidah Syiah sangat berbeda dengan akidah Islam. Aliran ini mencaci-maki para sahabat, bahkan mengkafirkan Abu bakar, Umar, Usman dan para sahabat lainnya, serta mengkafirkan Ahlus sunnah waljama’ah.

Itulah di antara berbagai aliran/paham sesat yang sempat berkembang di Aceh. Bisa jadi masih ada lagi aliran/paham sesat lain yang belum penulis sebutkan. Sebagian aliran/paham sesat tersebut sudah hilang, namun sebahagian masih terus melancarkan aktivitasnya untuk menyebarkan paham sesatnya.

 Kriteria ajaran sesat

Secara umum, suatu ajaran/aliran dikategorikan sesat apabila bertentangan dengan ajaran Alquran dan As-Sunnah. Sebaliknya, orang yang berpegang teguh kepada Alquran dan As-Sunnah, maka ia akan selamat dan tidak akan sesat selama-lamanya. Rasulullah saw bersabda: “Aku tinggalkan kepada kamu sekalian dua hal, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Alquran dan Sunnah Rasul saw.” (HR. At-Tirmizi).  Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang sesat itu orang meninggalkan ajaran Alquran dan Sunnah.

Untuk memudahkan masyarakat dalam mendeteksi suatu aliran/paham sesat, maka MPU Aceh telah menetapkan 13 kriteria paham/aliran sesat dalam fatwa MPU NAD No.4 Tahun 2007 tentang Pedoman Identifikasi Aliran Sesat.

  1. Mengingkari salah satu dari Rukun Iman yang 6 (enam).
  2. Mengingkari salah satu dari Rukun Islam yang 5 (lima).
  3. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
  4. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.
  5. Mengingkari kemurnian dan atau kebenaran Alquran.
  6. Melakukan penafsiran Alquran tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu tafsir
  7. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber hukum
  8. Melakukan pensyarahan terhadap hadis tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu musthalah hadis.
  9. Menghina dan atau melecehkan para Nabi dan Rasul Allah
  10. Mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir;
  11. Menghina dan atau melecehkan para sahabat Nabi Muhammad saw
  12. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti berhaji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak 5 waktu dan sebagainya.
  13. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i yang sah, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan anggota kelompoknya.

Ref
* Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA, Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Aceh, dan Pengurus Komite Penguatan Akidah dan Peningkatan Amalan Islam (KPA-PAI) Banda Aceh. Email: yusranhadi@yahoo.com. Editor : bakri. Pada: http://aceh.tribunnews.com/2012/09/12/mewaspadai-ajaran-sesat-di-aceh