Ikhlas

Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah. (HR Abu Daud dan An-Nasa’i)
Ikhlas, Lillahi Ta’ala, hanya untuk ALLAH.
Ikhlas adalah menqasadkan kata-kata, amal usaha, jihad dan pengorbanan kita itu karena Allah dan menharapkan keredhaannya tanpa mengharap keuntungan, nama, gelar, pangkat, sanjungan, kedudukan duniawi.  Ikhlas adalah saat seseorang melaksanakan tuntutan agama dan menjauhi tegahan agama semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah dan takut kepada kemurkaan-Nya.  Ikhlas adalah niat semata-mata karena Allah, karena menjunjung perintah, karena mengharap ridha, karena mengikuti, karena mentaatiNya dan karena patuh padaNya. Karenanya yang satu. Tujuannya hanya satu dan didorong oleh yang satu yaitu Allah. Mengabdikan diri karena Allah dan tidak dicampur atau bercampur selain Allah. Itulah ikhlas, dorongannya hanya satu. Ikhlas sulit untuk dinilai. Ini adalah karena ikhlas adalah niat atau perasaan atau tujuan di dalam hati. Niat di hati adalah rahasia Allah yang tidak diketahui oleh siapa pun. Tetapi ALLAH maha mengetahui niat, hasrat dan tujuan sebenarnya kita.  Tetapi meskipun rahasia, namun ulama ada mengidentifikasi tanda-tanda atau petunjuk untuk kita mengukur hati kita dan berusaha agar benar-benar ikhlas.

Caranya adalah saat orang puji atau keji pada kita, kita rasa sama saja.  Pujian tidak membanggakan dan cacian tidak mengecewakan kita. Itulah antara tanda ikhlas. Untuk orang yang beramal dan melakukan kebaikan, tidak mengharapkan pujian dan tidak efisien segala cacian itulah ikhlas. Untuk orang yang ikhlas, mereka tidak mengharapkan sesuatu selain keridhaan Allah.

Pernah suatu ketika di dalam peperangan, Sayidina Ali diludahi mukanya oleh seorang musuh, terus dilepaskan peluang untuk membunuh musuh tersebut. Bila ditanya kenapa dia melepaskan musuh tersebut sedangkan musuh itu telah meludah mukanya. Maka dijawab oleh Sayidina Ali, “Aku takut kalau-kalau pukulanku sesudah ludahnya itu adalah karena aku marah dan bukan karena Allah.” Demikian contoh orang yang ikhlas yang sanggup mengesampingkan kepentingan diri dalam usaha mencari keridhaan Allah.

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku dan ibadahku dan hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seru sekalian semesta alam. (Al-An’am: 162).